Omiai (atau hanya MIAI) adalah ungkapan yang berarti "mencari yang lain" dan mengacu pada fakta dua orang ini yang tidak tahu tujuan dari mengatur pernikahan antara mereka.
Kebiasaan ini berasal dari abad ke-16 diantara samurai, untuk membentuk dan memperkuat aliansi militer. Tak lama kemudian menyebar ke kelas lain yang meniru cara-cara samurai. Saat ini antara 10% dan 30% dari pernikahan Jepang diatur dalam cara ini, biasanya diatur oleh orang tua, dan sisanya disebut ren'aikekkon (atau perkawinan cinta).
Menemukan pasangan hidup atau jodoh dapat terjadi
dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan pejodohan. Tradisi perjodohan
di negara Jepang dan terkenal dengan nama omiai. yang secara harfiah berarti "untuk melihat satu sama lain." Ini adalah pertemuan formal. Arti
kata dari omiai sendiri adalah pertemuan antara seorang wanita dan pria yang
didampingi oleh keluarganya (Miru = melihat, and au = bertemu).
Garis Besar Proses Omiai
Peserta
dianggap sebagai mitra dimasa depan omiai mungkin dan keluarga mereka,
dan dievaluasi oleh pendidikan, pendapatan, daya tarik fisik, pekerjaan, agama,
kelas sosial, golongan darah dan hobi. Peran penting dalam proses ini adalah Nakoda, yang dapat
kenalan, kerabat atau seorang profesional yang kebanyakan menengah antara
keluarga, meskipun memiliki peran yang lebih dipertemuan pertama perjodohan.
Sebelum
pertemuan pertama perjodohan terjadi, kedua belah pihak dapat melihat foto peminang mungkin
mereka untuk menghindari penolakan atau kejutan menyenangkan dimasa depan.
Dalam pertemuan pertama biasanya saat ini Nakoda, dua single dan orang tua
mereka. Para Nakoda disajikan, maka biasanya ada percakapan antara orang tua,
dan akhirnya meninggalkan pasangan sendiri masa depan mungkin bagi mereka untuk
mendapatkan berkenalan. Jika ini berhasil, akan memiliki beberapa tanda kutip
sebelum memutuskan apakah akan menggelar pernikahan atau tidak, tetapi
keputusan ini biasanya pada kencan
ketiga.
Untuk
mempertemukan kedua belah pihak, dan kalau setuju, bisa dilanjutkan ke proses
berikutnya, yaitu menikah.
Bagi sebagian orang Jepang, tradisi Omiai ini bukanlah hal yang jelek dan
kampungan, tetapi adalah suatu tradisi yang harus tetap dihormati. Biasanya
saat Omiai, yang wanita akan mengenakan baju adat, di Indonesia mungkin seperti
kebaya, dan saat pertemuan itu pihak masing-masing akan menilai sifat
masing-Omiai adalah sistem perjodohan di jepang. Masing-masing pihak meminta
tolong kepada nakoudo atau baishakunin (mak comblang supaya
dicarikan jodoh).
Nakoudo?
orang yang pergaulanya luas dan juga tahu seluk-beluk, tata krama perjodohan.
Ia yang memberitahu orang tua yang berminat apa-apa yang harus dipersiapkan
(mencarikan pasangan jodoh dan juga menjadi perantara dua keluarga dalam
penyampaian pesan, apakah si perempuan atau si laki-laki berminat meneruskan
hubungan atau tidak ). Nakoudo mendapatkan uang trima kasih sebesar 10% dari
mas kawin.
Jika
perjodohan ini berjalan lancar, dan kedua belah pihak setuju, maka akan
berlanjut ke pernikahan. Saat pesta pernikahan ada yang unik dimana yang
mendampingi adalah yang memperkenalkan mereka yang disebut nakodo. Jadi bukan
orang tua si pengantin. Sampai sekarang Nakodo ini tetap dipakai waktu pesta
walaupun orangnya tidak melakukan omiai. Mayoritas pasangan suami-istri yang menikah melalui proses
Omiai ini lebih langgeng daripada yang pacaran, mungkin karena mereka
menghormarti tradisi, keluarga dan hubungan baik, sehingga mereka betul-betul
menghargai apa artinya perkawinan itu sendiri. Jika di islam ini dikenal dengan
istilah taaruf dan khitbah. Pasangan di Jepang senang memadukan upacara
pernikahan agama dari tradisi Jepang dengan kultur Barat yang modern. Karena
pesta pernikahan Jepang dianggap sebagai suatu peristiwa yang sangat berarti
dalam kehidupan, pesta perkawinan dan resepsi biasanya sangat terperinci,
dikarenakan menggunakan kedua tradisi tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar